Diberdayakan oleh Blogger.
Home » » untuk

untuk

Written By AL AFIF on Jumat, 03 Maret 2017 | 18.20

Di Mana Imanmu?
(Untuk Mereka yang Selalu Mendamba Kesempurnaan Iman)



Di mana Imanmu,
Bukankah seorang mu’min adalah saudara bagi mu’min yang lainnya. Saudara yang  diikat bukan dari aliran darah yang sama, tapi aqidah yang mengesakan yang Maha Esa, yang KeesaanNya Abadi. Lantas, kenapa dengan bangga kita menggunjingkan aibnya, jika itu benar, Padahal belum tentu yang digunjing itu lebih hina dibandingkan kita yang menghinakan dirinya. Juga, belum tentu kita lebih mulia dibanding dia yang kau pergunjingkan.

Di mana Imanmu,
Ketika lisanmu kau lepas dengan liarnya, kau tafsirkan setiap pandangan kepadamu adalah keburukan bagimu, kau jadikan ketidaktahhuan seseorang sebagai alasan untuk menghakiminya, kau muliakan penebar kebencian dan kau nistakan pembawa ilmu, bahkan ia adalah Imam dalam shalatmu.

Wahai anak manusia,
Ketahuilah, yang mulia dari diri kita adalah yang terbaik akhlaknya. Dan semulia-mulia akhlak adalah mereka yang terjaga lisannya. Terjaga dari satu kata yang tak bermakna, terjaga dari gibah yang sedang mewabah, terjaga dari fitnah yang melunturkan amanah.

Wahai penerus masa depan,
Di kehidupanmu tidak selalu kemudahan yang menghampirimu, tidak selalu keindahan yang menyambutmu, tidak selalu bunga-bunga yang ada disekelilingmu. Memang begitulah kita diciptakan, tantangan datang, datang lagi, datang lagi dan terus sampai berakhirnya riwayat hidup kita. Maka, bekalilah hidupmu dengan ilmu karena dengan ilmulah hidup terasa lebih mudah dan terarah

Wahai manusia pembelajar,
Belajarlah untuk terus berfikir positif dan tebarkanlah energi positif itu. Belajarlah untuk berani meminta maaf walau mungkin kita yang disakiti, belajarlah untuk memaafkan karna Tuhan kitapun Sang Maha Pemaaf.

Bagi mereka yang mendambakan kesempurnaan Iman
Ingatlah kesempurnaan itu perlu diperjuangakan, dan perjuangan itu pastinya tidak mudah.  Layaknya Gajah Mada dengan Sumpah Palapanya, pun demikian Setan dengan sumpah Sesatnya, akan terus menggoda anak manusia. Godaan dengan berbagai variasi metodenya dan sering dari sisi kesukaan kita. Kita senang olahraga badminton, maka setan akan menggiring kita untuk mencintai permainan itu sampai shalatpun kita tinggalkan, kita senang beribadah maka setan tidak akan diam, dia akan coba dari berbagai sisi, bisa sisi agar ibadah kita berlebihan sehingga jatuh pada bid’ah, atau, mengusik niat kita sehingga menjadi tercampur ria. Na’udzubillah.

Akhirnya, dengan bertambahnya ilmu dan amal, kita akan menyempurnakan iman itu, dan di sanalah kita butuh guru, maka muliakanlah gurumu, sebagaimana gurumu memulianakanmu disetiap do’a-do’anya.

Ilahi anta maksudi waridhoka matlubi a’tini mahabbataka wa ma’rifataka.

Oleh afzi, Abdul Fakir Mirohmati Robihi


0 komentar :

Posting Komentar

SMA/MA PILIHAN