Di
Mana Imanmu?
(Untuk Mereka yang Selalu Mendamba Kesempurnaan Iman)
Di mana Imanmu,
Bukankah
seorang mu’min adalah saudara bagi mu’min yang lainnya. Saudara yang diikat bukan dari aliran darah yang sama, tapi
aqidah yang mengesakan yang Maha Esa, yang KeesaanNya Abadi. Lantas, kenapa
dengan bangga kita menggunjingkan aibnya, jika itu benar, Padahal belum tentu
yang digunjing itu lebih hina dibandingkan kita yang menghinakan dirinya. Juga,
belum tentu kita lebih mulia dibanding dia yang kau pergunjingkan.
Di mana Imanmu,
Ketika lisanmu kau lepas dengan liarnya, kau tafsirkan
setiap pandangan kepadamu adalah keburukan bagimu, kau jadikan ketidaktahhuan
seseorang sebagai alasan untuk menghakiminya, kau muliakan penebar kebencian
dan kau nistakan pembawa ilmu, bahkan ia adalah Imam dalam shalatmu.
Wahai anak manusia,
Ketahuilah, yang mulia dari diri kita adalah yang
terbaik akhlaknya. Dan semulia-mulia akhlak adalah mereka yang terjaga
lisannya. Terjaga dari satu kata yang tak bermakna, terjaga dari gibah yang
sedang mewabah, terjaga dari fitnah yang melunturkan amanah.
Wahai penerus masa
depan,
Di kehidupanmu tidak selalu kemudahan yang
menghampirimu, tidak selalu keindahan yang menyambutmu, tidak selalu
bunga-bunga yang ada disekelilingmu. Memang begitulah kita diciptakan,
tantangan datang, datang lagi, datang lagi dan terus sampai berakhirnya riwayat
hidup kita. Maka, bekalilah hidupmu dengan ilmu karena dengan ilmulah hidup
terasa lebih mudah dan terarah
Wahai manusia pembelajar,
Belajarlah untuk terus berfikir positif dan tebarkanlah
energi positif itu. Belajarlah untuk berani meminta maaf walau mungkin kita
yang disakiti, belajarlah untuk memaafkan karna Tuhan kitapun Sang Maha Pemaaf.
Bagi mereka yang
mendambakan kesempurnaan Iman
Ingatlah kesempurnaan itu perlu diperjuangakan, dan
perjuangan itu pastinya tidak mudah.
Layaknya Gajah Mada dengan Sumpah Palapanya, pun demikian Setan dengan
sumpah Sesatnya, akan terus menggoda anak manusia. Godaan dengan berbagai
variasi metodenya dan sering dari sisi kesukaan kita. Kita senang olahraga
badminton, maka setan akan menggiring kita untuk mencintai permainan itu sampai
shalatpun kita tinggalkan, kita senang beribadah maka setan tidak akan diam,
dia akan coba dari berbagai sisi, bisa sisi agar ibadah kita berlebihan
sehingga jatuh pada bid’ah, atau, mengusik niat kita sehingga menjadi tercampur
ria. Na’udzubillah.
Akhirnya, dengan
bertambahnya ilmu dan amal, kita akan menyempurnakan iman itu, dan di sanalah
kita butuh guru, maka muliakanlah gurumu, sebagaimana gurumu memulianakanmu
disetiap do’a-do’anya.
Ilahi anta maksudi
waridhoka matlubi a’tini mahabbataka wa ma’rifataka.
Oleh afzi, Abdul Fakir Mirohmati
Robihi
0 komentar :
Posting Komentar